Hadirkan 6 Pembahas dari 6 Negara, Prodi S3 Linguistik USU Kaji “HUMOR”

Foto: Program Studi Doktor Ilmu Linguistik FIB USU secara virtual. 

Medan - Program Studi Doktor Ilmu Linguistik FIB USU, kembali hadir menggelar kajian ilmiah dalam Seminar Internasional secara virtual dengan mengangkat tema “Humour in Multidisiplinary Studies: Language, and Religion”. Kegiatan secara virtual yang dilaksanakan pada 25 November 2020 ini menghadirkan Prof. Anne Pomerantz, Ph.D. (University of Pennsylvania, USA), Dr. Eddy Setia, M.Ed.TESP. (USU Indonesia), Prof. Toshiyuki Sanadobu, Ph.D. (Kyoto University, Japan), Prof. Dr. Jan van der Putten (Universität Hamburg, Germany), Dr. Tariq Khan (Central Institute of Indian Languages, India), dan Aygül UÇAR, Ph.D. Mersin University, Turkey). Seminar Internasional yang membahas Humor ini di pimpin oleh moderator Prof. T. Silvana Sinar, M.A. Ph.D, (Guru Besar Linguistik USU). 

Humor merupakan gejala universal untuk mengungkapkan sesuatu yang dianggap lucu, yang berefek dapat membangkitkan rasa senang dan gembira. Namun, setiap orang dan masyarakat memiliki persepsi yang berbeda tentang humor. Sejak abad ke-16 di Eropa dan Amerika Serikat, humor telah dianggap sebagai bagian dari kehidupan manusia.

Di kawasan Asia, humor dikenal pada awal abad ke-19 seperti disebutkan Rahmanadji (2007). Tak heran, di awal abad 20 humor telah menjadi salah satu tujuan penelitian. Saat itu humor memasuki era baru karena sangat dominan dalam teater dan film komedi. Di Indonesia humor informal menjadi bagian dari kesenian rakyat, seperti ludruk, ketoprak, lenong, wayang kulit, wayang golek, dan sebagainya. Bahkan, pada perkembangan media cetak di awal 1960-an, media massa mulai memunculkan rubrik-rubrik humor yang khas, seperti spoof, anekdot, karikatur, dan kartun.

Dr. Budi Agustono, M.S. Dekan FIB USU, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada Ketua dan Sekteratis Prodi S2 dan S3 FIB USU yang telah menggagas seminar Internasional dengan tema yang jarang di analisis secara akademis yaitu “humor”. Saya juga mengucapkan selamat dan sukses atas diselenggarakannya kegiatan ini secara daring, semoga mampu menstimulasi para peserta, akademisi dan praktisi bahasa dan sastra untuk melakukan kajian ilmiah dalam berbagai varian tentang humor, karena humor itu melekat dalam kehidupan manusia dan tidak akan pernah punah hingga dunia ini berakhir. Oleh karena itu sangat layak lahir temuan-temuan terbaru dari dari penelitian formal S1, S2 dan S3 di FIB USU, serta dapat di publikasikan diberbagai jurnal ilmiah nasional dan internasional bereputasi, sehingga humor itu akan semakin populer. Selamat berseminar Bapak/Ibu para peserta, semoga kegiatan ini akan bermanfaat bagi kita, terutama untuk pengembangan kajian bahasa kedepan.  

Dr. Eddy Setia, selaku ketua Prodi S3 Linguistik, dalam sambutannya mengatakan Seminar Internasional IICoLA ke-2 ini kami mengangkat humor dalam multidisiplin, karena kajian humor ini menjadi tema yang menarik untuk kita analisis, sehingga akan lahir temuan terbaru dalam penelitian nantinya. Selain seni, humor juga dapat digunakan sebagai representasi realitas sosial dan kritik sosial dari kalangan tertentu. “Apalagi humor kini berfungsi sebagai media komunikasi politik, atau hanya wujud dari realitas sosial di masyarakat”, ungkap Dr. Eddy.

Lebih lanjut Dr. Eddy menjelaskan, humor politik telah bertransformasi dan berkembang menjadi meme sebagai ekspresi politik dari masyarakat populer dan kemajuan informasi teknologi dan kehadiran sosial media, seperti yang disampaikan Wadilapa pada tahun 2015. 

Diruang terpisah, Dr. Mulyadi, M.Hum. selaku Sekretaris Prodi S3 dan juga Ketua Panitia IICoLA ke-2 ini, menambahkan bila dilihat dari perspektif berbeda, misalnya para psikolog yang memandang humor sebagai jalan keluar yang mampu menciptakan mentalitas yang sehat dan menghilangkan stres yang disebabkan oleh tekanan jiwa dan mental. “Tidak hanya untuk mengolah emosi, secara psikologis humor juga dapat berfungsi sebagai penyimpan “sense of self”. Begitulah cara seseorang menghindari masalah dan memandangnya dari sudut pandang yang berbeda seperti disebutkan Hasanar dan Subandi pada tahun 1998”, ungkap Dr. Mulyadi.

Jika mengutip Wijana tahun 2004, dalam perspektif kebahasaan, humor pada hakikatnya merupakan salah satu permainan bahasa yang menyebabkan seseorang tertawa atau tersenyum karena kegembiraan. Wacana humor berperan sebagai hiburan dengan istilah khusus yang disampaikan secara informal. Permainan bahasa ini dapat terjadi pada semua tingkatan seperti fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan wacana. “Jumlah perserta yang mengikuti kegiatan ini dari jumlah yang mendaftar, ada 500 orang dan puluhan pemakalah pendamping sebagai presenter dari dalam dan luar negeri. IICoLA ke-2 ini menampilkan enam pembicara utama dari enam negara berbeda, dari Benua Amerika, Eropa, dan Asia. Inilah cara Program Studi S3 Ilmu Linguistik FIB USU guna mendukung terwujudnya percepatan Universitas Sumatera Utara menjadi world class university”, tutupnya.(Mja)